Limited drops, no restocks. Drop 06 — Opium · live Gratis ongkir mulai €169 6–11 hari ke seluruh dunia Berlin · Shanghai · Tokyo · Poznań Limited drops, no restocks. Drop 06 — Opium · live Gratis ongkir mulai €169 6–11 hari ke seluruh dunia Berlin · Shanghai · Tokyo · Poznań Limited drops, no restocks. Drop 06 — Opium · live Gratis ongkir mulai €169 6–11 hari ke seluruh dunia Berlin · Shanghai · Tokyo · Poznań

Inside Fūga · Streetwear

Korean Outfits Pria: Kode Seoul-Layering, bukan K-Pop-Cosplay

Apa yang benar-benar dipakai pria di Hongdae, Itaewon, dan Gangnam — tiga lapisan dalam satu keluarga warna, satu titik fitted, 80 % palet netral. 5 tipe, 10 brand (Ader Error, thisisneverthat, ANDERSSON BELL), akar Hanbok, dan 6 kesalahan yang menjatuhkan outfit.

· Founder · Berlin · 18.04.2026 · 18 Min.
Korean Outfits Men — Fuga Studios

Kalau kamu mencari „outfit pria Korea”, kamu biasanya berakhir di dua ekstrem: outfit panggung BTS atau foto stok pria berbalut Hanbok. Keduanya tidak banyak berkaitan dengan apa yang dipakai pria 23 tahun di Hongdae setiap pagi.

Gaya pria Korea bukan sebuah look — melainkan mekanika dari tiga mode (Casual, Modern, Traditional), yang ditahan oleh disiplin Layer yang keras dan palet yang tetap sekitar 80 persen netral. Berbeda dari refleks streetwear Amerika „oversize plus logo”, Seoul bekerja lewat keheningan: beige, hitam, charcoal, off-white, navy. Logo menghilang di potongan, bukan di dada.

Siapa pun yang menjual Korean Style sebagai „look idol K-Pop” telah mencampuradukkan kode panggung dengan keseharian. Panduan ini menjelaskan apa yang benar-benar dipakai: lima tipe nyata, akar Hanbok, sepuluh brand yang menulis kosakatanya, fisika Layering, aturan 3-3-3 dalam konteks Seoul, dan enam kesalahan yang secara pasti menjatuhkan outfit.

Beginilah sebuah Korean-Layer-look yang bersih terbaca dalam dua belas detik:

Definisi

Apa yang sebenarnya dipakai pria Korea?

Gaya pria Korea adalah sistem outfit dari empat blok bangunan tetap. Kalau keempatnya pas, outfit terbaca sebagai „Korea”. Kalau satu hilang, ia tergelincir menjadi hal lain — streetwear US generik, workwear Jepang, atau lebih buruk: K-Pop-cosplay.

3

Layer dalam keseharian

80 %

palet netral

1

titik yang pas di outfit

0

logo yang terlihat

Keempat angka ini bukan hiasan. Itu adalah tes. Sebuah outfit yang mematahkan satu kuota — look kaus satu lapis alih-alih tiga lapisan, atau sneaker merah menyala, atau cetakan logo di dada — tidak lagi terbaca sebagai Korea. Ia terbaca sebagai refleks streetwear Eropa atau Amerika yang memakai Piece Korea.

Secara konkret, yang termasuk outfit pria Korea:

  • Tiga lapisan sebagai default — Tank atau tee di bawah, kemeja atau Knit tipis di tengah, Coach-Jacket atau Overshirt di luar. Di musim panas cukup dua.
  • Palet netral dengan satu nada — beige plus off-white plus hitam. Charcoal bukan antrasit. Navy bukan royal blue. Kalau sebuah outfit butuh tiga warna berbeda, satu terlalu banyak.
  • Longgar di atas, lebih longgar di bawah, satu titik yang pas — biasanya bahu (kemeja yang duduk rapi) atau betis (celana cropped di atas sepatu).
  • Sepatu bersih, bukan statement — White Sneaker, Brown Loafer, Black Derby. Chunky Sneaker hanya cocok di iterasi streetwear.
  • Aksen lewat tekstur, bukan warna — Waffle-Knit, Cable-Knit, Linen-Crinkle, Cotton yang disikat. Kekayaan visual datang dari kain, bukan dari cetakan.
  • Aksesori kecil dan minim — satu kacamata tipis, satu jam tipis, satu tas bahu. Tanpa rantai statement, tanpa tumpukan bucket-hat.

Kalau tiga dari enam poin ini hilang, itu bukan lagi Korean Style — itu inspirasi. Dan ada satu poin yang menahan lima lainnya:

5 tipe

5 look dalam gaya pria Korea

Korean Style bukan satu look — melainkan lima, yang saling tumpang tindih di tepiannya. Siapa pun yang di Seoul selama seminggu mengamati pria berusia 20 sampai 35 di Hongdae, Itaewon, dan Gangnam, akan melihat kelima tipe ini terpisah rapi. Masing-masing dengan palet sendiri, jumlah lapisan sendiri, sepatu sendiri.

Yang mana dari kelima ini cocok untukmu lebih bergantung pada ritme harianmu daripada selera. Kamu kuliah, kamu masuk universitas di Seoul, kamu duduk di kantor — kodenya bergeser. Dan itu membawa langsung ke akar tradisional, yang darinya kelima tipe entah bagaimana masih mewarisi.

Tradisi

Apa nama pakaian pria tradisional Korea? Hanbok, Jeogori, dan Baji dijelaskan

Pakaian pria tradisional Korea bernama Hanbok. Secara harfiah: „pakaian Korea”. Untuk pria, Hanbok lengkap terdiri dari tiga bagian: Jeogori (jaket atas pendek, sepanjang pinggul, dengan tali ikat alih-alih kancing), Baji (celana lebar, dikerut di pergelangan kaki atau lutut), dan opsional Durumagi (mantel luar panjang, sepanjang lantai, untuk acara formal).

Hanbok kini hampir hanya dipakai pada tiga kesempatan: Seollal (tahun baru Korea), Chuseok (perayaan panen), dan pernikahan atau acara keluarga besar lain. Dalam keseharian ia praktis menghilang — yang tidak berarti siluetnya lenyap. Garis Jeogori yang panjang dan jatuh muncul kembali di brand Korea modern sebagai mantel. Kelebaran Baji adalah leluhur Wide-Leg-Pant masa kini. Fusi Hanbok modern (dari brand seperti Tchai Kim atau Leesle) membangun potongan Hanbok ke dalam Denim, Linen, dan kulit — itulah satu-satunya titik pertemuan tradisi dan streetwear.

Siapa pun yang menyewa Hanbok sebagai „kostum” untuk postingan Insta di Istana Gyeongbokgung tidak membuat mode — itu turisme. Siapa pun yang menerjemahkan garis Hanbok ke dalam potongan modern ikut menulis sebagian gaya pria Korea masa kini.

Brands

Merek apa yang dipakai orang Korea? 10 label yang menulis kode Seoul

Daftar „merek apa yang dipakai orang Korea” tidak sama dengan „merek Korea apa yang dipakai turis yang menggugel Korean Style”. Pria Korea banyak membeli di dalam negeri, banyak di Olive Young, banyak di label DTC ukuran menengah — dan pilihan designer mereka cenderung Eropa (Lemaire, Acne Studios) dan Jepang (Comme des Garçons, Visvim), bukan streetwear US.

Sepuluh label yang benar-benar menulis kosakata dalam keseharian pria — diurutkan berdasarkan visibilitas di Seoul:

  • Ader Error — di Seoul sejak 2014. Brand default untuk Oversize-Knit, Coach-Jacket, dan bordir logo ironis. Siapa pun yang menghidupi „Korean Style” di Hongdae punya setidaknya satu Piece Ader di lemari.
  • thisisneverthat — sejak 2010, kelas berat streetwear. Logo-Drop sebagai Cap dan Tee — satu-satunya label Korea di mana tulisan yang tampak menjadi bagian dari kode.
  • IISE — brand fusi Hanbok, didirikan oleh dua bersaudara Korea-Amerika. Jembatan antara tradisi dan streetwear.
  • We11done — avant-garde dari Seoul, dipakai idol dan konsumen akhir yang gemar designer. Siluet mantel, asimetri, berfokus hitam.
  • Beyond Closet — crossover Preppy, master Striped-Knit. Kalau sebuah outfit Korea punya vibe akademi, seringnya datang dari sini.
  • JUUN.J — kelas berat designer, langganan Mens Week Paris. Mantel panjang, Drape-Bottom, referensi potongan militer.
  • ANDERSSON BELL — berfokus Knitwear, spesialis Cable-Knit dan Cardigan. Knit yang dipakai pria Korea di musim gugur sering kali sebuah Andersson Bell.
  • Wooyoungmi — couture pria Korea yang berbasis di Paris. Kalau sebuah outfit Korea terkesan „dewasa”, ia Wooyoungmi-adjacent.
  • Studio Concrete — Casual-Basics dalam off-white, beige, cream. Basic Korea yang tidak terkesan muji-Jepang.
  • Recto — brand wanita dengan Drop pria, oversize-clean, potongan yang ditempatkan dengan baik. Sering terlihat di Itaewon.

Siapa pun yang ingin memakai Korea tanpa berbelanja di Seoul mencari label-label ini di pasar resale (Musinsa-Resale, Grailed, Vestiaire) atau di brand DTC yang menerjemahkan kosakatanya dengan kompeten — Coach-Jacket dalam beige, Wide-Leg-Pant dalam charcoal, Knit dalam Cable dan Waffle.

Kategori · Outerwear

Jaket Korean Outfit — Bomber, Coach, Padded Coat

Jaket menopang outfit Korea. Ia adalah lapisan terluar, bidang terbesar, dan pembawa palet utama. Di sinilah ditentukan apakah tiga lapisan bersih menjadi sebuah outfit atau sekadar tumpukan material.

Empat tipe jaket bekerja dalam Korean Style: Coach Jacket dalam beige, hitam, atau off-white (default Seoul-Minimalist), Bomber oversized dengan sisi luar yang tenang (varian Streetwear-Idol), Padded Coat sepanjang lutut untuk musim dingin Seoul, dan garis Coat panjang dengan warisan Hanbok dalam Wool atau Linen. Yang tidak bekerja: apa pun yang mengingatkan pada US-Varsity atau Field-Jacket Eropa — siluetnya terlalu dekat ke tubuh.

Kalau kamu belum punya Coach Jacket atau garis mantel panjang di lemari, itu langkah pertamamu. Sebuah lapisan luar yang duduk tenang menopang seluruh outfit.

Kategori · Bottoms

Celana Korean Outfit — Wide-Leg, Loose Tapered, Pleated

Skinny sudah keluar di Seoul sejak sekitar 2019. Apa yang masih dipakai pria Korea pada 2014 (Slim-Pant ketat plus White Sneaker) kini adalah kenangan drama TV — celana default yang baru punya kelebaran, jatuh longgar, dan duduk di pinggul atau sedikit di bawahnya. Aturan duduknya: di atas tiga lapisan, di bawah material dan lipatan.

Korean-Bottom yang bekerja tenang dalam warna, longgar di kaki, dan berakhir di atas sepatu — bukan di lidah sneaker. Wide-Leg dalam beige, off-white, atau charcoal. Loose Tapered dalam hitam. Pleated Wool Pants untuk iterasi Modern. Cargo hanya dalam varian streetwear, dan saat itu dalam off-white atau olive — bukan camouflage.

Kalau kamu mencari celana yang cocok untuk kelima tipe Korea, ambil Wide-Leg dalam beige atau charcoal. Itu penyebut bersama — Seoul-Minimalist dan Streetwear-Idol bisa memakai celana yang sama.

Kategori · Lapisan tengah

Korean Tops & Knits — Polo, Cardigan, Mock-Neck

Lapisan tengah adalah titik terpenting di mana gaya pria Korea berbeda dari gaya Amerika. Di AS, di bawah jaket dipakai tee bercetak. Di Seoul, di sana hampir selalu ada Knit — Waffle, Cable, Mock-Neck, atau Zip-Cardigan. Ketat di kerah, longgar di perut, selalu dalam satu nada dari palet utama.

Aturannya: satu warna, duduk pas di leher, sebuah kain dengan tekstur yang tampak. Kemeja bercetak (Graphic-Print, Band-Logo, US-College) langsung menjatuhkan outfit ke streetwear Eropa. Sebuah Plain-Beige-Waffle-Knit berkata lebih „Korea” daripada tee bercetak mana pun, bahkan kalau cetakannya datang dari Seoul.

Siapa pun yang ingin menguji Layer-look mengombinasikan Mock-Neck di bawah Cardigan yang dipakai terbuka dan di atasnya Coach Jacket. Itu tiga lapisan dalam satu keluarga warna — default Korea dalam bentuk terpendeknya.

Pemisahan sub-genre

Casual vs Modern vs Traditional — tiga mode

Kalau kamu mengamati seorang pria Korea selama seminggu di Seoul, kamu akan melihat tiga outfit berbeda dalam tiga konteks berbeda. Casual di akhir pekan di Hongdae. Modern Senin sampai Jumat di kantor atau di universitas. Traditional pada acara keluarga — Seollal, Chuseok, pernikahan. Kosakatanya sama, distribusinya berubah.

Casual berarti: Coach Jacket atau Hoodie oversized, Wide-Leg atau Baggy Cargo, White Sneaker atau Chunky Trail-Sneaker. Aksen lewat Cap atau tas. Sebuah Tank atau tee sebagai lapisan terbawah, sebuah Overshirt di tengah, sebuah jaket di luar — kalau cuaca mengizinkan, itu sudah tiga lapisan.

Modern berarti: Wool-Pleated-Pant atau Wide-Leg yang duduk ramping, Knit-Polo atau Cable-Cardigan, garis Coat panjang. Sepatu: Loafer atau Derby bersih. Itulah look yang muncul di kedai kopi Seoul di Gangnam dan di ruang Coworking di Seongsu-dong di jalanan pada malam hari.

Traditional berarti: Hanbok lengkap (Jeogori plus Baji plus Durumagi) atau fusi Modern-Hanbok (garis Jeogori sebagai mantel di atas Wide-Leg dari Linen). Sepatu: Loafer hitam atau sandal Cotton tradisional. Itu bukan keseharian — itu kode keluarga.

Ketiga mode berbagi disiplin Layering yang sama dan palet netral yang sama. Yang bergeser adalah kain (Cotton plus Denim casual, Wool plus Knit modern, Linen plus Silk traditional) dan sepatunya.

Logika styling

Cara benar-benar menata Korean Style — logika Layering

Sebuah outfit pria Korea bekerja lewat tepat tiga langkah: lapisan satu menempel di tubuh, lapisan dua duduk longgar di atasnya, lapisan tiga jatuh terbuka di luar. Kalau ketiganya berada dalam satu keluarga warna dan hanya satu titik yang benar-benar fitted, ia duduk pas. Stylist Korea tidak mengucapkan prinsip ini, tetapi setiap foto Lookbook Ader Error atau Beyond Closet mematuhinya.

„Di Seoul disiplin Layering bukan gaya — itu cuaca. Empat musim dalam seminggu, plus AC kedai kopi. Siapa yang tidak memakai tiga lapisan tak bisa bertahan sehari.”

Dalam praktik itu berarti: Mock-Neck ketat plus Cardigan terbuka plus Coach Jacket. Atau Tank plus Linen-Shirt plus Coat oversized. Jangan pernah dua lapisan oversized tanpa jangkar — satu titik harus fitted, kalau tidak seluruh outfit menjadi tembok penuh kain. Uraian lengkap fisika Layer Korea telah kami bedah dalam artikel tersendiri:

Namun Korean Style tidak berdiri sendiri — ia tumpang tindih di beberapa tepian dengan kode lain. Workwear Jepang berbagi palet tenang, Techwear berbagi pemikiran Layer fungsional, Y2K-streetwear berbagi siluet Baggy-Pant. Siapa yang menguasai Korea bisa membaca kode-kode tetangga ini dan mencampurnya secara terarah tanpa tergelincir ke cosplay turis.

Inilah lima tetangga terpenting — masing-masing dengan guide sendiri, kalau kamu mau lebih dalam:

3-3-3

Apa isi aturan 3-3-3 untuk pakaian — dan apakah berlaku dalam mode Korea?

Aturan 3-3-3 datang dari diskursus Capsule-Wardrobe Barat dan berkata: sebuah outfit yang baik punya tiga warna, tiga tekstur, tiga Layer. Tiga warna menahan mata tetap menyatu. Tiga tekstur memberi kekayaan tanpa membuat satu lapisan berteriak. Tiga Layer membangun kedalaman tanpa terkesan seperti tugas. Pada intinya sebuah disiplin satu-aturan untuk orang yang terlalu banyak mencampur.

Dalam gaya pria Korea aturan ini berlaku — tetapi dengan pergeseran. Tiga warna dalam praktik adalah variasi satu nada (beige plus off-white plus brown, bukan beige plus biru plus abu-abu). Tiga tekstur hampir selalu Cotton plus Knit plus Wool atau Denim plus Linen plus Leather — kombinasi baku, bukan eksperimen. Tiga Layer adalah perlengkapan default, bukan kasus khusus.

Beginilah look tiga-lapisan-tiga-tekstur tampak saat bergerak:

Seasonal

Musim panas vs musim dingin — Seoul dari -15 °C sampai 35 °C

Seoul tidak punya suhu tengah yang lembut. Musim dingin rutin turun ke -15 °C, musim panas naik ke 35 °C dengan kelembapan 80 persen. Karena itu Korean Style memang digerakkan iklim sejak awal — Padded Long Coat di musim dingin bukan keputusan mode, melainkan keputusan bertahan hidup. Di musim panas seluruh satu lapisan gugur, dan outfit harus menjelaskan dirinya kembali.

Di musim dingin Korea bekerja dengan mudah. Padded Coat (sepanjang lutut atau lebih panjang), Cable-Knit di bawahnya, Mock-Neck di tubuh, Wide-Leg Wool di bawah itu, Black Derby atau Padded Boot. Empat lapisan, semua dari palet yang sama. Tantangan datang di musim panas, saat lapisan luar — bidang visual terbesar — gugur dan Knit menghilang.

Korea musim panas bekerja lewat apa yang di musim dingin lenyap di bawah dua lapisan. Linen-Overshirt menjadi pemandangan utama, Tee oversized dalam off-white menjadi lapisan tengah, Linen-Pant yang jatuh longgar menjadi bawahan. Sebuah White Sneaker atau sandal Cotton menutup outfit. Paletnya tetap — tetapi kainnya beralih dari Wool dan Knit ke Linen dan Crinkle-Cotton.

6 kesalahan ini menjatuhkan outfit Korea

Yang tidak boleh

Sebagian besar outfit Korea gagal bukan karena kekurangan satu potongan, melainkan karena detail yang salah. Enam kesalahan ini paling sering berulang — dan masing-masing murah untuk dihindari begitu kamu mengetahuinya.

Semua tiga warna berbeda

Aksi

Cara memulai dengan Korean Style — 4 potongan pertama

Kamu tidak butuh 30 Piece Korea untuk memakai Korean Style. Kamu butuh empat, yang akan hadir di 80 persen outfitmu. Semua sisanya dibangun di sekitarnya.

Berurutan: sebuah Coach Jacket dalam beige atau hitam (investasi terbesarmu — lapisan luar menopang outfit). Sebuah Wide-Leg-Pant dalam charcoal atau off-white (bawahan default). Sebuah Waffle-Knit atau Mock-Neck dalam cream (lapisan tengah tekstur). Sebuah White Sneaker bersih atau Brown Loafer (jangkar di lantai). Sebuah tas bahu tipis sebagai potongan kelima opsional — tetapi baru setelah keempatnya pas.

Outfit nyata

Korean Outfits pria secara nyata — seperti apa itu di Hongdae

Sebelum kamu membangun milikmu sendiri, lihat bagaimana orang lain memakainya. Kelima tipe dari atas tampak berbeda di feed dibandingkan di foto Lookbook: lebih dekat ke proporsi nyata, kurang studio-clean, sering dengan satu detail tak rapi (tee yang mengintip dari jaket) — dan justru karena itu mereka bekerja.

Ini adalah cara tercepat untuk memeriksa apakah Korean Style benar-benar duduk pas di tubuhmu — sebelum kamu mengeluarkan uang.

Penutup

Korean Style adalah kode Layering, bukan kostum K-Pop

Kalau kamu mengingat satu hal dari panduan ini, maka ini: gaya pria Korea tidak bekerja lewat potongan, melainkan lewat tiga lapisan dalam satu keluarga warna dengan satu titik fitted. Siapa yang menguasainya membangun seratus outfit dengan dua puluh potongan. Siapa yang hanya membeli Piece punya lemari penuh tanpa satu pun outfit yang duduk pas.

Seluruh logika panduan ini bisa diringkas dalam satu kalimat:

Aturannya stabil sejak gelombang Skinny pada 2019 dan akan tetap begitu selama Ader Error, thisisneverthat, dan ANDERSSON BELL memberi nada. Tetapi kamu tidak perlu menunggu sampai hafal semuanya. Mulailah dengan satu look yang paling cocok dengan kesehariananmu. Yang belum kamu tahu, kamu pelajari sambil memakainya.

Dan itu juga intinya: Korean Style secara teori terbaca seperti daftar aturan, tetapi secara praktik tidak terasa begitu. Begitu kode itu kamu kuasai, setiap outfit berikutnya adalah variasi dari tiga atau empat lapisan yang sama — bukan penemuan baru.

FAQ

Pertanyaan yang sering diajukan tentang Korean Outfits pria

Pertanyaan yang sering kami terima lewat DM dan email — singkat, jelas, tanpa berputar.

Apa yang benar-benar dipakai pria Korea dalam keseharian?
Dalam keseharian didominasi tiga lapisan dalam palet netral: sebuah tee atau Tank di tubuh, sebuah Knit atau Overshirt di tengah, sebuah Coach Jacket atau Padded Coat di luar. Wide-Leg- atau Loose-Tapered-Pants alih-alih Skinny, ditambah White Sneaker, Brown Loafer, atau Padded Boot. Outfit panggung K-Pop adalah kostum show dan praktis tidak muncul di jalanan di luar konser.
Gaya apa yang paling sering dipakai pria Korea?
Seoul-Minimalist — Beige Coach Jacket, Off-White Tee, Wide-Leg Pant, White Sneaker. Itulah look default di kafe-kafe Gangnam dan ruang Coworking Seongsu. Streetwear-Idol (Hoodie oversized, Baggy Cargo, Chunky Sneaker) adalah akhir pekan Hongdae. Modern Knit-Cardigan-Layering muncul di kantor, Hanbok tradisional tetap untuk pesta keluarga.
Apa nama pakaian pria tradisional Korea?
Namanya Hanbok. Untuk pria, Hanbok lengkap terdiri dari tiga bagian: Jeogori (jaket atas pendek dengan tali ikat), Baji (celana lebar, dikerut di pergelangan kaki), dan Durumagi (mantel luar panjang untuk acara formal). Hanbok kini hampir hanya dipakai untuk Seollal, Chuseok, dan pernikahan — brand fusi Hanbok modern seperti Tchai Kim atau Leesle menerjemahkan potongannya ke dalam Denim, Linen, dan kulit.
Merek apa yang benar-benar dipakai orang Korea?
Dalam keseharian didominasi label Korea seperti Ader Error, thisisneverthat, ANDERSSON BELL, Beyond Closet, dan Studio Concrete. Pilihan designer lebih sering Eropa (Lemaire, Acne Studios) dan Jepang (Comme des Garçons, Visvim) daripada Amerika. Fusi Hanbok berjalan lewat IISE, Tchai Kim, dan Leesle. Avant-garde dari Seoul: We11done, JUUN.J, Wooyoungmi.
Apa isi aturan 3-3-3 untuk pakaian — dan apakah berlaku juga secara Korea?
Aturan 3-3-3 berkata: tiga warna, tiga tekstur, tiga Layer. Ia berlaku dalam gaya pria Korea dengan pergeseran: tiga warna dalam praktik adalah tiga nada dari satu keluarga warna (beige plus stone plus cream, bukan beige plus biru plus abu-abu). Tiga tekstur adalah kombinasi baku seperti Cotton plus Knit plus Wool. Tiga Layer bukan pengecualian, melainkan default — cuaca Seoul jarang mengizinkan lebih sedikit.
Apakah Korean Style juga bekerja pada tubuh orang Eropa?
Ya — dan lebih baik daripada yang dikira kebanyakan orang. Korean Style bekerja lewat distribusi Layer dan palet, bukan lewat tubuhmu. Untuk tubuh yang lebih lebar atau lebih besar: kurangi Oversize-Outerwear, lebih banyak Drape (garis Coat panjang alih-alih Bomber), Wide-Leg dengan sedikit jatuh. Lapisan fitted (Mock-Neck, Polo-Knit) tetap di tubuh. Bahu yang lebih besar butuh lebih sedikit ukuran berlebih di Coat.
Sepatu apa yang cocok dengan outfit Korea untuk pria?
Empat sepatu bekerja andal: White Sneaker bersih (New Balance 530, Adidas Samba, Court-Sneaker generik) untuk Seoul-Minimalist. Brown atau Black Loafer untuk Modern. Chunky Trail-Sneaker (Salomon XT-6, New Balance 990) untuk Streetwear-Idol dan Techwear-Hybrid. Padded Winterboot untuk musimnya. Yang TIDAK bekerja: Nike-Air-Max dengan Bubble-Sole yang tampak, Crocs, Cowboy-Boot, segala bentuk Plateau-Boot.

Menurutmu?

Tulis ke kami di @fuga_studios

Tentang penulis

Philipp Fuge — Founder · Berlin

Founder Fūga Studios. Menulis journal sendiri. Berlin · Shanghai · Tokyo · Poznań — empat kota, satu logika.

Opium
01Opium · 84 pieces

Niche · 01 / 04

Opium.

Opium lahir dari celah antara lemari Berghain dan potongan streetwear. Kami membaca materi yang sama lewat lensa kami sendiri.

BerghainCarbon BlackHeavy DrapeRick · Carti4 a.m. Berlin
Shop Opium Lookbook

Dari Opium · 4 Pieces

Semua 84
Businesscore Pointelle Knit Polo 1
Out.

Gothic Waxed Hooded Jacket

€184,99 €214,99
Gothic

4 dari 84 Pieces

Semua 84
Lihat semua 84
Businesscore
02Businesscore · 23 pieces

Niche · 02 / 04

Businesscore.

Businesscore adalah jawaban atas apa yang terjadi saat kamu menua tanpa jadi jinak. Potongan tailored dengan DNA streetwear — antara drape Yohji dan tailoring Italia 90-an.

TailoredYohji-DrapeSuiting Wool25-30 DemoEdgy bleiben
Shop Businesscore Lookbook

Dari Businesscore · 4 Pieces

Semua 23

4 dari 23 Pieces

Semua 23
Lihat semua 23
Techwear
03Techwear · 10 pieces

Niche · 03 / 04

Techwear.

Techwear dimulai bagi kami sebagai terjemahan reduksi Tokyo ke dalam kain. Errolson Hugh, Acronym, GORE-TEX, potongan ergonomis — dan secara paralel disiplin Jepang: tak ada yang berlebih, semua fungsi.

AcronymGORE-TEXLayeredTokyo-ReduktionFunctional
Shop Techwear Lookbook

Dari Techwear · 4 Pieces

Semua 10
Lihat semua 10
Streetwear
04Streetwear · 71 pieces

Niche · 04 / 04

Streetwear.

Streetwear adalah akarnya — desain pertama dari Tokyo pada 2015 adalah print anime, karakter Jepang, grafis Harajuku. Semua yang lain tumbuh dari situ, tapi garisnya terus berjalan.

Anime-OriginHarajuku 2015Heavy CottonY2KOversized Cuts
Shop Streetwear Lookbook

Dari Streetwear · 4 Pieces

Semua 71

4 dari 71 Pieces

Semua 71
Lihat semua 71

@fuga_studios · Community

Model kami bukan model.

Mereka teman, koneksi, tersebar di tiga kota. Saat kamu memakai Fūga, tag kami dengan @fuga_studios atau #fugastudios — kami repost fit terbaik, dan kamu jadi bagian dari lookbook berikutnya.

2015 → hari ini

Fūga

風雅

Fūga bukan untuk semua orang.

Asal Plattenbau Berlin, terinspirasi Asia. Kreatif, tapi tak pernah sepenuhnya masuk sistem. Tokyo 2015 sebagai titik awal — enam fase niche sejak itu.

Hari ini: Berlin · Shanghai · Tokyo · Poznań. Kami kenal desainer kami dengan nama. Limited drops, no restocks.

Kami bukan pembelot. Kami tahu sistemnya — sekolah, bekerja, terus membangun. Keduanya sekaligus.